Kriiiiiinnggg

Suatu pagi di hari Senin tahun 1991
Kriiiiiing! Jam di rak buku di atas kepala saya berbunyi. Suaranya terdengar keras sekali. Maklum, masih pagi buta, jam 4.15. Sepi, tak ada suara. Hanya kadang-kadang terdengar seperti alat-alat dapur yang saling beradu dari dapur rumah tetangga sebelah, seorang pemilik warung makan. Pelan-pelan saya bangkit dari petiduran, dan membuka pintu kamar. Di luar masih gelap. Teman-teman satu kos saya pun masih tidur lelap.
Saya tinggal di sebuah tempat kos tiga lantai di daerah Mrican milik seorang dokter hewan. Saya lupa nama pemiliknya, karena saya tidak pernah bertemu dengannya. Maklum, pengelolaan tempat kos itu diserahkan pada Pak Adi, yang sekarang sudah almarhum. Nama tempat kos itu Asrama Tenang. Tetapi, suasananya tidak pernah seperti namanya. Mendekatipun tidak. Jumlah kamarnya saja lebih dari 40. Tak pernah ada yang kosong. Selalu penuh. Apalagi penghuninya laki-laki semua. Saya tinggal di tempat itu sejak saya duduk di kelas 1 SMA De Britto, tahun 1984, hingga beberapa tahun setelah saya lulus dari perguruan tinggi.
Waktu itu, tahun 1991, studi saya di Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma belum selesai. Saya masih sedang menulis skripsi. Saya pikir ada baiknya juga saya mulai mencoba mencari pengalaman kerja di sela-sela waktu menyelesaikan tugas akhir itu.
Kesempatan tak terduga itu datang. Seorang teman kos suatu hari menawari saya untuk menggantikannya mengajar di sebuah SMA swasta ternama di Muntilan, karena dia diterima bekerja di sebuah perusahaan pelayaran asing. Gayung pun bersambut. Saya ambil kesempatan itu. Saya katakan ya, saya mau. Kendati berstatus guru pengganti, saya tak berkecil hati. Yang ada dalam benak saya waktu itu adalah bahwa saya harus mendapatkan pengalaman mengajar. Pengalaman mengajar waktu PPL rasanya tak cukup.
Hari Senin itu saya harus bangun pagi-pagi supaya saya punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Saya berjalan ke arah kompor minyak tanah yang terletak di depan kamar seorang teman kos, lalu menyulutnya dengan korek api yang tergeletak di sampingnya. Kompor minyak itu kami beli patungan. Namanya saja anak kos, uang mepet. Saya ambil wajan dan saya tuangkan sedikit air ke dalamnya untuk merebus mi instan, makanan favorit anak-anak kos.
Barangkali mi instan tak cukup untuk sarapan. Tetapi, setidaknya perut terisi supaya saya punya energi; supaya saya mampu menjaga agar selalu tampak bersemangat di hadapan siswa dan siswi saya. Sebenarnya ada warung makan di sebelah tempat kos saya. Tapi warung baru buka jam 6. Saya tidak bisa menunggu sampai warung buka sebab untuk sampai ke sekolah tempat saya mengajar dibutuhkan sekitar satu seperempat jam. Bisa-bisa saya terlambat.
Pukul 5.15 saya sudah siap berangkat. Saya minta tolong teman putri saya, yang sekarang menjadi pendamping saya, untuk menjemput. Bukan apa-apa. Waktu itu saya tidak punya kendaraan bermotor. Sepeda saja saya tidak punya. Ke mana-mana saya jalan kaki, naik bus kota atau angkot, atau pilihan terakhir pinjam motor teman. Tepat jam lima seperempat, Yamaha bebek tahun 82 warna merah itu datang, siap membawa saya ke Jombor, tempat saya menunggu bus jurusan Yogya-Semarang.
Pagi hari bus selalu penuh sesak dengan komuter. Melihat seragam mereka, saya menduga mereka pegawai negeri. Mereka tinggal di Yogya, tetapi bekerja di daerah-daerah sekitar Semarang. Saking penuhnya, sering kali tak ada tempat duduk kosong. Apa boleh buat, saya berdiri, berpegangan pada batang besi yang membujur di langit-langit bus.
Pukul 6.30 bus masuk terminal Muntilan. Turun dari bus, saya naik angkot kira-kira 10 menit, dan berhenti di ujung Jalan Kartini. Dari sana saya berjalan kaki lima menit untuk sampai di sekolah.
Rutinitas seperti itu saya jalani dua kali seminggu selama satu tahun, setiap hari Senin dan Jumat. Memang jam mengajar saya tidak banyak, hanya 8 jam seminggu ditambah mendampingi ekstra kurikuler bahasa Inggris setiap hari Jumat jam 15.00.
Bicara perihal gaji, suatu kali seorang kolega, yang juga mengajar bahasa Inggris di sekolah yang sama, bertanya apakah gaji sekian ribu itu cukup. Aneh juga pertanyaannya. Jelas tidak cukup. Kalau satu jam mengajar dihargai Rp. 3000, berapa yang saya bawa pulang dengan 8 jam mengajar itu? Tetapi jujur, waktu itu saya belum berpikir tentang uang. Ya, mungkin karena waktu itu saya belum menikah, jadi tidak punya tanggungan apapun atau siapapun. Bukan pula saya tidak membutuhkan uang. Siapa sih yang tidak butuh uang? Saya hanya ingin mengumpulkan potongan-potongan kecil pengalaman yang saya peroleh, menyimpannya, dan mengeluarkannya di saat yang tepat.
Memang, bangun pagi, apalagi pagi buta, ketika orang lain masih tidur lelap, kadang-kadang merepotkan dan menimbulkan keengganan. Apalagi masih harus menyiapkan sarapan sendiri, dan setelah itu masih berdiri di bus 45 menit. Tetapi, ada perasaan lega, senang, bahkan puas ketika hal-hal yang merepotkan itu bisa terlewati. Toh, saya pikir saya, dan kita semua, tak bisa berpaling muka dari “kerepotan-kerepotan” yang setiap hari harus dihadapi. Orang harus mandi dan keramas kalau mau wangi dan tampak segar. Orang harus mencuci pakaian dan menyeterika kalau ingin kelihatan bersih dan rapi. Orang harus pergi belanja dan memasak kalau ingin bisa makan. Guru harus membuat persiapan mengajar, mengoreksi pekerjaan siswa, dan mengolah nilai karena memang “kerepotan-kerepotan” itu adalah bagian dari tanggungjawab.
Pengalaman setahun mengajar di Muntilan itu mengajarkan kepada saya tentang kesabaran dan komitmen. Juga, kesediaan untuk mendengarkan. Waktu itu, meskipun saya sebelumnya pernah menjadi siswa, saya tidak berpikir tentang kesulitan siswa, persoalan-persoalan mereka, kebosanan mereka, serta perasaan-perasaan lain hingga seorang siswa mengungkapkan perasaan tertekannya berada di asrama kepada saya.
Ada pelajaran lain. Seorang siswi mengatakan ingin masuk PBI karena senang mengikuti pelajaran saya. Artinya, siswa mencatat dan mengingat apa yang dilakukan gurunya di ruang kelas. Inilah yang selalu menjadi peringatan bagi saya. Yang dilakukan guru selalu berdampak, bisa positif bisa negatif, pada cara pandang mereka, pada cita-cita mereka, bahkan jalan hidup mereka!
Yang terutama adalah, potongan kecil pengalaman itu telah menjadi ruang berlatih yang sesungguhnya bagi seorang guru pemula seperti saya, yang tidak tahu apa-apa tentang ruang kelas.

~ oleh berbagiasa pada 20 Februari 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: